aKU

aKU

Minggu, 23 Desember 2012

Lomba Menulis Aku dan Sahabat Disabilitasku



LELAKI ANGKLUNG
(Melihat Dengan Hati)

Mereka berbeda, terselip diantara manusia-manusia normal yang tak peduli bahkan mencerca mereka. Sangat sedikit orang yang mengerti isi hati mereka dan menerima mereka apa adanya. Mereka terpinggirkan dan terbuang, serta terseok menjalani kehidupan.
Selama ini penyandang cacat atau yang kita kenal dengan disabilitas sering dipandang sebelah mata. Kondisi fisik mereka yang tidak sempurna seringkali membuat mereka terasing dan rendah diri. Namun dari kondisi mereka yang kurang tersebut terkadang kita dapat menemukan banyak hal yang mungkin dapat mempengaruhi hidup kita di masa depan.
Okay, akan kuceritakan sebuah kisah yang merubah cara pandangku tentang penyandang disabilitas dan melihat sisi lain manusia.

Dimulai dengan perjumpaanku dengannya di suatu siang beberapa tahun silam,
Jauh di tengah hiruk pikuk kota Yogyakarta. Diantara lalu lalang pejalan kaki Malioboro, seorang lelaki paruh baya menjual suara. Bukan suaranya namun suara musiknya. Unik dan indah. Tangannya cekatan memainkan deretan potong bambu dengan bunyi berbeda di setiap batangnya. Ia hanya tersenyum setiap kali mendengar suara recehan jatuh dalam gelas plastic di hadapannya.
Yah, mungkin aku memang bukanlah penggemar music, bahkan aku buta akan music. Namun angklung selalu menjadi alat music favoritku sejak pertama kali aku mendengarnya walau hingga kini aku tak bisa memainkannya. Meski begitu aku tetap mengagumi suara yang keluar dari instrument satu itu, dan suara angklung terindah bagiku adalah milik lelaki itu.
Entah mengapa aku merasa seakan ada kisah yang mendalam dari permainannya. Ada sesuatu yang berbeda yang hingga kini kuyakini sebagai suatu bentuk ketulusan.
Tak ada yang special dari lelaki itu kecuali karena kecintaannya pada angklung dan karena ia seorang tuna netra. Setiap hari ia datang dan duduk di tempat yang sama, waktu yang sama dan perlengkapan yang sama kecuali pakaiannya. Dan yang membuatku lebih takjub lagi karena ia tetap berusaha meski dalam keterbatasan dan bertahan untuk tidak hanya menadahkan tangan, setidaknya ia menjual sesuatu.
Ia tak melihat dengan mata, namun suara indah yang dihasilkan dari permainannya seakan mengisyaratkan bahwa ia telah terbiasa menerka apa yang tak dapat ia lihat dan memproyeksikannya dalam hati. Berusaha memahaminya, aku merasa bahwa diriku selama ini jauh dari gambaran perduli akan keterbatasan orang-orang senasib lelaki itu.
Dan ketika kini ia mulai terlupakan dan tergeser oleh para musisi jalanan yang mengangkat angklung sebagai daya tariknya, aku masih mengingatnya meski aku tak tahu apa pun tentang dirinya kecuali apa yang kulihat, kudengar dan kurasakan dari permainannya. Bagiku bahasanya sudah cukup mewakili kelebihan dalam kekurangan dirinya.
Banyak orang mengatakan bahwa tak ada yang dapat dijual dari seorang cacat kecuali kemalangannya. Rasa kasihan akan memberikan banyak recehan ke kantong mereka seolah hanya itu aset yang dimilikinya. Namun lelaki itu memberikan fakta yang berbeda tentang apa yang dapat dilakukan penyandang disabilitas seperti dirinya. Bahkan darinya pula aku dapat mengerti bahwa penyandang disabilitas bukanlah orang buangan. Mereka tak jauh berbeda dengan kita, bahkan terkadang mereka justru lebih menghargai hidup daripada manusia normal di sekitarnya, dengan cara yang berbeda tentunya.
Namun meski aku berpikir dan mulai peduli pada penyandang disabilitas, pada kenyataannya masih ada jutaan orang di luar sana yang belum dapat menghargai mereka dan masih memandang mereka dengan sebelah mata.
Aku merasa beruntung karena dapat memandang penyandang disabilitas dari sudut yang berbeda, dan aku berharap kalian juga begitu. Setidaknya kita dapat belajar dari mereka tentang bagaimana melihat sesuatu dengan lebih nyata. Tak selamanya apa yang kita lihat adalah benar, maka belajar melihat dengan hati tentang segala yang ada di sekitar kita adalah hal yang penting.
Aku sadar bahwa yang mereka butuhkan hanyalah dukungan, pengertian dan ketulusan. Oleh karena itu aku berharap agar kita dapat lebih memahami mereka, mendengar mereka meski mereka tak bersuara, menjadi mata bagi penglihatan mereka yang tak berwarna, menjadi penopang mereka ketika tubuhnya tak kuasa berdiri dengan tegak dan menjaga hati mereka agar tak lagi terluka, serta bertekat untuk hidup lebih baik lagi dengan tidak menyia-nyiakan anugerah yang Tuhan berikan.
Semoga kisah kecilku ini dapat membuat kita melihat dunia mereka dengan bijaksana dan dengan cara yang berbeda.
Sahabat yang baik bagi mereka bukanlah rasa kasihan, tapi pengertian




Kamis, 20 Desember 2012

Lomba Blog “Aku dan Sahabat Disabilitasku”


Lomba Blog “Aku dan Sahabat Disabilitasku”

http://sahabatmkaa.wordpress.com/


Dalam rangka International Day of Person with Disabilities, Museum Konferensi Asia-Afrika bekerja sama dengan Mata Hati Indonesia menyelenggarakan lomba menulis blog Hari Internasional Penyandang Disabilitas (HIPENDIS) 2012. Adapun tema perlombaan kali ini adalah “Aku dan Sahabat Disabilitasku“.

Periode Lomba

Lomba ini berlangsung pada 1 – 29 Desember 2012. Pemenang akan diumumkan melalui situs ini pada: 31 Desember 2012.

Syarat dan Ketentuan:

  • Lomba menulis ini terbuka untuk umum.
  • Peserta lomba adalah perseorangan.
  • Tulisan dipublikasikan dalam blog peserta.
  • Peserta dapat menggunakan layanan blog apapun, kecuali blog organisasi dan kelompok.
  • Peserta boleh mengirimkan lebih dari satu tulisan.
  • Peserta wajib mengirimkan biodatanya dengan format berikut: Nama, Alamat Rumah, No. Handphone, Email, Facebook, Twitter, Alamat Blog, dan URL Tulisan. Biodata dikirim melalui email ke sahabatmkaa@gmail.com dan sahabat.disabilitas@gmail.com dengan subject: Lomba Menulis Aku dan Sahabat Disabilitasku. Setiap email, memuat hanya 1 URL Tulisan, tidak lebih.
  • Peserta minimal telah memiliki 5 tulisan dalam blognya sebelum mendaftarkan diri pada lomba ini.
  • Peserta wajib memasang Banner Sahabat Difabel di halaman muka blognya. Untuk mengambil banner, klik tautan ini.
  • Peserta harus memasang tag/label SahabatDifabel di setiap tulisannya di blog.
  • Panjang tulisan MINIMAL 2.500 karakter.
  • Tulisan menggunakan Bahasa Indonesia.
  • Materi yang diikutsertakan adalah tulisan. Peserta boleh menambahkan gambar, suara, dan video pada tulisannya tersebut.
  • Peserta harus menyukai (like) halaman Facebook (FanPage) Sahabat Disabilitas dan mengikuti (follow) Twitter @Sahabat_Difabel.
  • Tulisan harus dibagi (share) di Twitter dan Facebook peserta masing-masing. Tulisan yang dibagi di Twitter harus menyebut (mention) @Sahabat_Difabel. Sedangkan tulisan yang dibagi di Facebook harus menandai (tag) halaman (FanPage) Sahabat Disabilitas.
  • Karya bukan hasil jiplakan. Peserta yang diketahui menjiplak, akan langsung masuk dalam Daftar Hitam (Black List) dan tidak diperkenankan mengikuti perlombaan.
  • Setiap tulisan yang diikutsertakan tunduk dalam lisensi karya cipta bersama CC BY-NC-SA 3.0.
  • Keputusan Dewan Juri bersifat mutlak dan tidak bisa diganggu gugat.

Dewan Juri:

  • Yudha P Sunandar (Blogger, Online Citizen Journalist, Pengkaji Citizen Journalism)
  • Ricky Mardiansyah (Blogger, Pemenang Kategori Khusus Indonesian Human Rights Blog Awards 2012)
  • Hendra “Veejay” Purnama (Penulis, Novelis, FilmMaker)

Kriteria Penjurian:

  • Orisinalitas gagasan
  • Kesesuaian dengan tema
  • Kejelasan penyampaian
  • Gaya Bahasa dan Penulisan
  • Inspiratif

Hadiah

  • Pemenang I: uang tunai 1 juta Rupiah
  • Pemenang II: uang tunai 500 ribu Rupiah
  • Pemenang III: uang tunai 250 ribu Rupiah

Kegiatan ini didukung oleh:

Sahabat Museum Konferensi Asia-Afrika (SMKAA), Komunitas Film Layar Kita, Asian-African Reading Club (AARC), Pusat Pemberdayaan Open Source Software (POSS) UPI, Kabuyutan Braga, Museum Braga, dan Bengkel Kreasi GaPat Bandung.

Selasa, 18 Desember 2012

yanG Gila iTu SiaPa???



Ada yang bilang aku ini gila……
Ketika aku menanyakan pada mereka alasannya, yang mereka katakan hanya satu kata …. “entahlah”
Aku berpikir lagi menilik ke belakang, mencoba menerka-nerka alasan yang mungkin menjadi jawaban yang memuaskanku…
Tak ada, belum kutemukan

Kemudian aku berpikir kembali pada hakikat kata “gila” yang membuatku bergidik.
Benarkah aku memang tidak waras? “Ah tidak mungkin”, pikirku.
Kemudian aku kembali mengintip isi pikiranku, ada banyak rekaman memori yang bisa jadi merupakan indikasi kegilaanku. 
 

Tapi kemudian aku berpikir ulang, kenapa aku menjadi sepusing ini?
Meski aku pada suatu saat (yang entah kapan dan aku berharap tak akan terjadi) aku terbukti gila, toh aku menikmatinya dan mereka (yang mengataiku gila) pun Nampak biasa.
So, jadilah aku tetap pada diriku sekarang
Hingga……..

Beberapa waktu yang lalu aku menulis sebuah pertanyaan yang kuedarkan dalam sebuah kelas yang membosankan dan bertanya,
Apa pendapatmu tentang aku??
Dari sekian banyak jawaban, ada jawaban simbok yang membuatku teringat kembali pada isu sebelumnya.
Ia menjawab, “you are a crazy girl!”
What?? Again??
Penasaran aku bertanya, “lha kok?”
Ia menjawab, “yak arena kamu gila. Semua yang kamu lakukan selalu membuat suasana begitu gila dan membuat semua tertawa seperti orang gila.”
“oh…” jawabku kemudian.
………LOADING…….
Tunggu! Kalau gitu aku bukannya gila…gila…gila….gila gak waras gitu?
Alhamdulillah, senangnya!
Tapi, terus sebenarnya itu yang gila itu aku apa mereka sih?
…………………………………………………………….LOADING………………………………………………..
Aku tetap gak ngerti, tapi akhirnya kuputuskan (yang merupakan keputusan sepihak) kalau yang gila adalah Mereka. Titik. Dengan wajah berseri. Lega



Senin, 17 Desember 2012

BunDa-Melly Goeslaw

Kubuka album biru
Penuh debu dan usang
Ku pandangi semua gambar diri
Kecil bersih belum ternoda
Pikirkupun melayang
Dahulu penuh kasih
Teringat semua cerita orang
Tentang riwayatku
 
Reff:
Kata mereka diriku slalu dimanja
Kata mereka diriku slalu dtimang
Nada nada yang indah
Slalu terurai darinya
Tangisan nakal dari bibirku
Takkan jadi deritanya
Tangan halus dan suci
Tlah mengangkat diri ini
Jiwa raga dan seluruh hidup
Rela dia berikan
Back to reff
Oh bunda ada dan tiada dirimu
Kan slalu ada di dalam hatiku

Jumat, 14 Desember 2012

MaSa SMA


Tiba-tiba kau teringat masa-masa di MANSA dulu. Kangen rasanya ingin mengulang saat itu, saat dimana aku masih sedikit polos (belum segila kini dan tidak selabil sekarang…). Saat berkumpul dengan teman-temanku yang science banget. Dedew, Mutia, Wima, Feyra dan yang lainnya.




di Plengkung Gading saat survey lokasi Foto buku tahunan dan akhirnya nggak dipake, hehe.
di kelas tercinta XI IPA 2

Hatiku


Mereka yang selalu total dalam melakukan sesuatu terus membuatku terpacu…..
Aku ingin menyelesaikan apa yang telah aku mulai, selalu. Namun terkadang ada hal yang tak bisa kuselesaikan dengan baik meski aku berusaha sekeras apapun. Saat hal itu terjadi, maka aku akan terpuruk sejenak. Merenung dan mengevaluasi makna perjalanan hidup ini.
Tak dapat dipungkiri bahwa aku lemah pada perasaanku sendiri. Terkadang otakku berkelut dengan sisi negative diriku, berpikir tentang apa yang tak perlu kupikirkan. Bahkan ketika apa yang kuanggap benar terhempas begitu saja, hatiku melemah



Seperti saat aku ditinggalkan dan kemudian aku meninggalkan. Konsep aneh yang selalu mengusik hati dan pikiranku. Entah cinta, persahabatan, persaudaraan atau sekedar pertemuan ala kadarnya.
Ada saat dimana hati lelah menahan amarah, terseok sudah kemudian melemah. Bahkan jika terkadang aku berusaha memaafkan, mereka tetap tak paham. Hati….hati ini sudah cukup menahan……. Amarah, benci, sayang, rindu….. dan semua kenangan yang pernah ada menggerogotiku perlahan, melemahkan aku dan menjerat keteguhan hatiku.
Andai aku dapat berteriak tanpa mengusik, aku akan mencaci lemahnya hati ini. Jika pun awalnya aku bertahan, namun kesabaran ada batasnya.
“aku tidak ingin menjadi lilin yang terus menerangi namun terbakar, perlahan lalu habis, menghilang….”
Pada akhirnya aku melangkah pergi, menjauh dan berusaha menghilang. Bukan menghindar, mungkin. Namun yang kutahu pasti, sisi negative diriku kian menggerogotiku, membuatku terombang-ambing, makin kehilangan pegangan dan entah apa yang akan terjadi kelak.
Terimakasih pada waktu yang memberiku kesempatan. Pada mereka yang memberiku tawa. Pada mereka yang menyajikan tangis dan pada mereka yang selalu bias menerima diriku apa adanya.