aKU

aKU

Jumat, 25 Januari 2013

KESETARAAN DALAM PERSPEKTIF ISLAM


Emansipasi  wanita. Sebuah pengakuan akan kesetaraan yang menjadi dambaan seluruh kaum hawa di dunia. Sebuah cita-cita  akan kebebasan dari lingkar diskriminasi gender. Cita-cita ini diperjuangkan oleh banyak wanita di setiap lintas masa. Dan seiring perkembangan zaman, pengakuan akan kesetaraan kedudukan antara laki-laki dan perempuan pun mendapat apresiasi yang luar biasa.
Kini wanita dapat bebas berkarya, menempuh pendidikan, berkarir dan memperoleh hak yang sama dengan kaum pria. Dan hasilnya? Jangan heran jika banyak kita temukan wanita-wanita pintar, wanita karir yang sukses, hingga seorang pemimpin wanita.
Namun jika kita kembali berkaca pada sejarah masa lalu, maka kita akan mendapati wanita sebagai mahluk yang tak diperhitungkan. Pada zaman jahiliyah, wanita memiliki kedudukan yang begitu rendah dan tidak dihargai sama sekali. Masyarakat Arab jahiliyah menganggap wanita tak lebih dari sebuah barang yang dapat dijual, dikendalikan dan diwariskan kepada keturunannya.
Bahkan wanita dipandang sebagai aib yang tidak memiliki hak untuk dihormati dalam masyarakat. Mereka berasumsi bahwa wanita adalah mahluk yang lemah dan merepotkan. Dan tragisnya, karena pemikiran kolot inilah maka mengubur bayi perempuan yang baru lahir justru dijadikan sebuah tradisi. Dan tradisi ini banyak di anut oleh Negara-negara Arab yang notabene merupakan kawasan awal penyebaran islam. Sungguh miris.
Namun di era globalisasi ini pandangan akan kedudukan wanita dalam kehidupan bermasyarakat telah memiliki tempat tersendiri dengan kesadaran akan penghormatan kepada kaum hawa yang juga semakin tinggi. Dan peranan wanita masa kini sungguh tak dapat dipandang sebelah mata.
 

Kesetaraan Dalam Perspektif Islam
          Pengakuan akan kesetaraan antara pria dan wanita adalah cita-cita kaum hawa. Namun, bagaimanakah islam memandang semua itu?
Islam menempatkan wanita pada tempat yang sangat terhormat dimana hak setiap wanita mendapat kejelasan seperti yang termaktub dalam Al-Qur’an dan Hadits. Dan kesetaraan kedudukan antara pria dan wanita pun tak menjadi larangan karena pada dasarnya kedudukan seorang hamba Allah ditentukan oleh seberapa besar keimanannya kepada Allah.
Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa pernah ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah dan berkata, “Wahai Rasulullah, siapa orang yang paling berhak bagi aku untuk berlaku bajik kepadanya?” Nabi menjawab, “Ibumu.” Orang itu bertanya lagi, “Kemudian setelah dia siapa?” Nabi menjawab, “Ibumu.” Orang itu bertanya lagi, “Kemudian setelah dia siapa?” Nabi menjawab, “Ibumu.” Orang itu bertanya lagi, “Kemudian setelah dia siapa?” Nabi menjawab, “Ayahmu.” (HR. Bukhari)
          Dari hadits di atas, kita dapat memahami bahwa hendaknya kita berbakti pada ibu kita tiga kali lebih besar dari bakti kita kepada ayah. Hadits di atas memperjelas bahwa islam tak hanya menghargai kesetaraan saja, namun dalam hal tertentu menempatkan wanita lebih dari pada laki-laki.
          Jika kita ingat kembali tentang nasib wanita pada masa jahiliyah, maka kita akan melihat bahwa sesungguhnya islam merupakan pembuka jalan akan kesetaraan gender dan pembelaan atas wanita terhadap hak-haknya sebagai manusia.




          Pada masa jahiliyah, wanita tak mendapatkan haknya dengan baik. Selain derajatnya yang dipandang begitu rendah dan diberlakukan dengan keji, pembunuhan akan bayi perempuan pun mewarnai zaman kebodohan itu. Namun ketika islam datang, tradisi tersebut perlahan tapi pasti mulai dihentikan. Selain itu, islam mengajarkan untuk menghormati wanita seperti mereka menghormati dirinya sendiri.
          Namun, meski islam tak membeda-bedakan derajat antara laki-laki dan perempuan, namun perempuan tetap harus menyadari akan kodrat dasar mereka sebagai perempuan. Karena seindah-indahnya perhiasan di dunia adalah seorang wanita yang solehah dan berbakti pada suaminya.


Esay di atas pernah aku kirimkan dalam sebuah lomba menulis islam dan wanita dulu. Hasil buka2 file lama.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar