aKU

aKU

Minggu, 20 Januari 2013

Evaluasi Efektivitas PMPS Dalam Pengembangan Potensi Kota Yogyakarta.

 
UJIAN AKHIR SEMESTER
MATA UJIAN PENGEMBANGAN POTENSI DAERAH


Sekaten merupakan agenda tahunan yang digelar oleh Kraton Yogyakarta. Sekaten atau upacara Sekaten (berasal dari kata Syahadatain atau dua kalimat syahadat) adalah acara peringatan ulang tahun nabi Muhammad s.a.w. yang diadakan pada tiap tanggal 5 bulan Jawa Mulud (Rabiul awal tahun Hijrah) di alun-alun utara Surakarta dan Yogyakarta.
Awalnya sekaten diadakan sebagai strategi syiar agama islam di pulau Jawa dengan mengedepankan perpaduan unsure islami berbalut kearifan budaya Jawa itu sendiri. Sekaten menjadi suatu sebuah terobosan jitu pada saat itu yang terbukti dapat merukunkan paham Animisme dan Dinamisme dengan ajaran islam. Pada akhirnya sekaten pun menjadi semacam acara tahunan yang menjadi bagian dari kebudayaan Jawa hingga saat ini.
Namun pada kesempatan kali ini saya akan lebih menyoroti pelaksanaan Pasar Malam Perayaan Sekaten (PMPS) sebagai salah satu rangkaian acara sekaten dengan focus evaluasi efektivitas PMPS dalam pengembangan potensi Kota Yogyakarta.
Sekilas mengenai Pasar Malam Perayaan Sekaten (PMPS)
PMPS merupakan bagian dari rangkaian acara sekaten yang selalu menjadi sorotan dan daya tarik wisata tersendiri. PMPS tahun 2012 kali ini mengusung tema “Harmony Religi, Budaya dan Ekonomi Untuk Jogja Istimewa”. Penyelenggaraan PMPS tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya karena konsep acaranya dikembalikan kepada ruh awal sekaten yaitu sebagai syiar islam yang di dalamnya menyangkut kegiatan budaya, religi dan ekonomi.
Aspek budaya dalam sekaten ini digambarkan melalui kraton, dan aspek religi digambarkan melalui masjid, sedangkan aspek ekonomi digambarkan melalui alun-alun. Oleh karena itu, kegiatan sekaten hanya dilakukan di tiga tempat tersebut sehingga tidak membebani kawasan sekitarnya.
Sebagai bagian dari kegiatan perekonomian Kota Yogyakarta maka PMPS tahun ini digadang-gadang akan mendatangkan pemasukan yang besar bagi Kota Yogyakarta. Sasaran dari PMPS itu adalah para wisatawan baik asing maupun domestic dan warga kota Yogyakarta sendiri.
Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, sekaten merupakan daya tarik tersendiri bagi para wisatawan untuk datang ke Yogyakarta. Peranan sekaten pun cukup besar mengingat sector pariwisata Yogyakarta merupakan andalan Kota Yogyakarta dalam meningkatkan pendapatan daerah, bahkan dalam beberapa tahun belakangan ini Pemerintah Daerah Kota Yogyakarta sedang gencar memajukan sector pariwisata. Oleh karena itu pelaksanaan PMPS pun harus dilaksanakan dengan menarik.
Tahun ini PMPS dibuka mulai tanggal 21 Desember 2012 hingga 24 Januari 2013 dan pengunjung yang datang ke arena PMPS tidak dipungut biaya. Demikian ditegaskan oleh Humas Pemkot Yogyakarta, Ig.Tri Hastono,S.Sos.,MM. langkah tersebut dimaksudkan untuk lebih menjangkau masyarakat menengah ke bawah.
Evaluasi Efektivitas PMPS Dalam Pengembangan Potensi Kota Yogyakarta.
Pasar Malam Perayaan Sekaten yang menjadi icon pariwisata tahunan Kota Yogyakarta sejak lama telah memberikan pengaruh yang besar baik dari segi budaya, pendidikan, religious bahkan perekonomian.
Antusiasme masyarakat dalam menyambut sekaten pun mengisaratkan bahwa kegiatan yang syarat nilai budaya ini telah menjadi bagian dalam kehidupan masyarakat dan selalu dinantikan. Bahkan sekaten telah menjadi satu asset Kota Yogyakarta yang memiliki potensi besar dalam pengembangan berbagai sector kehidupan terutama perekonomian.
Untuk lebih jelasnya kita akan melihat lebih jauh apakah PMPS benar-benar efektiv dalam pengembangan potensi daerah khususnya yang terkait dengan kehidupan masyarakat dan pemerintah Kota Yogyakarta. untuk itu akan dibahas lebih jauh dari berbagai sector terkait.
Pertama yaitu dari segi pendidikan dan kebudayaan. PMPS merupakan bagian penting yang pada dasarnya merupakan penggambaran kegiatan perekonomian Kota Yogyakarta. namun demikian PMPS tidak semata-mata berkutat pada perihal perekonomian saja, namun didalamnya terdapat banyak unsure budaya yang sangat bermanfaat bagi masyarakat dan pemerintah sendiri.
Dimulai dengan upacara pembukaan sekaten dan acara puncak sekaten dengan unsure gunungan, barang pusaka dan para prajurit keratonnya yang menonjol menjadikan acara tahunan ini begitu kental dengan unsure budayanya.
Dalam PMPS terdapat sebuah panggung yang khusus diperuntukkan bagi kegiatan kebudayaan, sebut saja pentas sendratari maupun tari daerah yang rutin dilaksanakan setiap tahunnya sebagai pengenalan dan pelestarian kebudayaan tari dan wayang orang kepada masyarakat. Dalam tari dan pementasan itu pula banyak disisipkan unsure pendidikan.
Tidak hanya terkait tari-tarian saja, penampilan gamelan Yogyakarta dan banyak pementasan yang melibatkan masyarakat pun terlaksana sebagai apresiasi pemerintah dalam bidang pendidikan dan budaya.
Unsure pendidikan dan kebudayaan pun tidak hanya ditonjolkan oleh panggung budaya sekaten tersebut. Ada stand-stand yang menjual barang-barang kebudayaan seperti batik, blangkon, wayang, angklung bahkan berbagai mainan tradisional yang mulai dilupakan oleh anak-anak jaman sekarang. Selain itu juga ada stand-stand yang menjual buku, perlengkapan sekolah dan masih banyak lagi.
Yang kedua yaitu dari segi religious. Seperti yang kita ketahui bahwa pada awalnya sekaten adalah strategi untuk penyebaran agama islam, oleh karenanya acara ini pun kental dengan unsure islami. Hal ini terlihat pada pelaksanaan pembukaan sekaten dengan rangkaian doa dan penutupannya yang sarat akan unsure religi. Bahkan saat ini gerbang masuk PMPS pun dibubuhi dengan doa dan tulisan ayat-ayat Al-Qur’an.
Yang ketiga yaitu dari segi pariwisata. PMPS terbukti efektif dalam menarik pengunjung ke Yogyakarta. Ada banyak pengunjung yang memenuhi PMPS yang tidak hanya berasal dari Kota Yogyakarta sendiri namun juga dari daerah sekitar seperti Sleman, Kulon Progo, Gunung kidul, dan Bantul. Bahkan ada banyak pengunjung dari luar kota yang khusus menyambangi PMPS.
Yang keempat yaitu Ekonomi. PMPS menampilkan geliat perekonomian yang begitu kental, dan sebagai gambaran kegiatan perekonomian masyarakat maka sudah menjadi hal biasa jika kawasan PMPS menjadi begitu ramai oleh pengunjung. Maka bisa dibayangkan tentang banyaknya perputaran uang dari kegiatan tawar menawar di dalamnya.
PMPS menyumbang pemasukan pendapatan daerah yang sangat besar. Dari penyewaan lahan dan stand PMPS saja pemerintak kota Yogyakarta menargetkan pendapatannya hingga 1 miliar rupiah.
Kepala bidang pajak daerah dinas pendapatan daerah dan pengelolaan keuangan (DPDPK) kota Yogyakarta, tugiyarta menjelaskan bahwa panitia PMPS telah menyediakan 235 stand yang terbagi menjadi lima zona, yaitu zona A sebanyak 22 stand, zona B sebanyak 78 stand, zona C ada 56 stand dan 48 stand pada zona D, serta zona E dengan 31 stand. (jogja.tribunnews.com/2012/11/21)
Stand yang ada dibandrol dengan harga yang berbeda sesuai dengan letak dan luas lahannya. Untuk harga di zona B permeternya adalah Rp 140.000 karena lokasinya strategis dan dekat dengan jalan sehingga mudah dijangkau pengunjung. Untuk stand lainnya seperti zona D dipatok dengan harga Rp 110.000 dan 120.000 per meternya, sedangkan zona B Rp 130.000 permeter. Lahan yang disediakan ada yang 10x10 meter dan 5x5 meter.
Jika kita kalkulasikan dengan menggunakan luas lahan 5x5 meter untuk semua stand dan harga stand A , C, D dan E adalah Rp 110.000 dan zona B Rp 130.000 maka pemasukannya adalah:
A. 22 stand x Rp 110.000 x 25 meter = Rp 60.500.000
B. 78 stand x Rp 130.000 x 25 meter = Rp 253.500.000
C. 56 stand x Rp 110.000 x 25 meter = Rp 154.000.000
D. 48 stand x Rp 110.000 x 25 meter = Rp 132.000.000
E. 31 stand x Rp 110.000 x 25 meter = Rp 85.250.000 +
Jumlah Rp 685.250.000
Gambaran di atas merupakan gambaran minimum pendapatan daerah dari sewa lahan dan stand di PMPS tahun ini. Jadi tidak menutup kemungkinan 1 miliar yang ditargetkan dapat tercapai. Pendapatan tersebut belum termasuk pendapatan dari pajak parkir dll.
Para pedagang dan penyewa lahan pun meraup untung yang besar dari berjualan di PMPS mengingat jumlah pengunjung yang dating begitu melimpah. Keuntungan lainnya bagi masyarakat yaitu mereka bisa memperoleh barang ydengan harga lebih murah daripada hari biasanya.
Dampak Positif Pasar Malam Perayaan Sekaten
Adapun dampak positif dari Pasar Malam Perayaan Sekaten (PMPS) ini antara lain:
  1. Sekaten bisa menjadi tempat hiburan masyarakat dan icon Yogyakarta yang menarik dan terjangkau. Hal ini terlihat dari antusias warga masyarakat terutama masyarakat dari kelas ekonomi menengah kebawah yang telah ramai datang ke Sekaten bahkan hari-hari sebelum pembukaan.
  2. Pasar Malam Perayaan Sekaten menjadi bentuk nyata sebuah kebudayaan yang dilestarikan dengan baik.
  3. Bertambahnya pemasukan daerah yang cukup besar
  4. Yogyakarta memiliki icon wisata yang menjanjikan.
  5. PMPS merupakan asset daerah yang penting bagi pengembangan potensi pendidikan, kebudayaan, religi, pariwisata dan perekonomian Kota Yogyakarta.


Dampak Negative Pasar Malam Perayaan Sekaten
  1. Muncul pengelola parkir yang memasang tariff parker tidak sesuai dengan ketentuan Perda No, 5/2012. ).- Perayaan Sekaten Kraton Yogyakarta 2011 dijadikan ajang juru parkir (jukir) pasang tarif mahal. Setiap sepeda motor ditarif Rp 3.000, sedangkan mobil Rp 5.000. Pengunjung pun menjerit
  2. Sebagi pusat keramaian baru, maka daerah sekitar kawasan PMPS pun menjadi macet. Para pedagang kaki lima dan parkir selama ini meluber ke kawasan sekitar alun alun, antaralain kantor pos, jalan trikora, jagang kauman, dan rotowijayan Melubernya aktivitas ini mengganggu kenyamanan dan ketertiban lalu lintas di sekitar lokasi.
  3. Lokasi PMPS dan sekitarnya Nampak kumuh dengan sampah para pengunjung yang berserakan

Strategi pengembangan Pasar Malam Perayaan Sekaten Yogyakarta
Yang dibutuhkan PMPS dalam upayanya untuk mengembangkan PMPS agar tidak monoton dan dapat menarik lebih banyak pengunjung antara lain:
  1. Pembenahan konsep penataan stand yang juga memperhatikan tampilan luar PMPS sebab selama ini pengelola kurang memperhatikan hal tersebut sehingga PMPS sering kali terlihat kumuh dari luar dan mengesankan level acara tersebut kurang bagus hingga sampai saat ini masih belum efektif menjangkau masyarakat kalangan menengah ke atas
  2. Pemerintah dan pengelola harus menerapkan peraturan tegas terkait masalah kebersihan area PMPS, penyediaan tempat sampah baik di area luar maupun dalam sangat penting sebagai fasilitas kebersihan.
  3. Untuk mengantisipasi kemacetan maka pengelola harus dapat memberikan solusi apabila kemacetan terjadi sebagai pertanggung jawaban kepada masyarakat yang lain.
  4. Peredaran produk yang ada pun perlu diawasi lebih ketat lagi.
  5. Keamanan dan juga kualitas wahana pun harus diperbiki mengingat banyak wahana yang dinilai masyarakat Nampak kurang aman, syarat bahan wahana pun harus diperhatikan. Penetapan syarat konstruksi wahana agar lebih diperketat.
  6. Akan lebih efektif apabila di tahun mendatang pengelola menyediakan semacam peta kawasan PMPS untuk memudahkan para pengunjung.
  7. Penambahan jumlah toilet umum pada tempat-tempat yang strategis juga harus dilakukan.
  8. Tentunya juga penertipan parker liar dan standar harga yang sesuai dengan peraturan pun wajib diperbaiki. Pengawasan pun harus lebih ketat lagi.

DAFTAR PUSTAKA
http://www.pikiran-rakyat.com/node/135424- diakses pada tanggal9Januari 2013. Pukul 16.55

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar