aKU

aKU

Selasa, 30 Oktober 2012

TENTANG PILIHAN…


TENTANG PILIHAN…

Seseorang (yang aku lupa namanya karena kami baru saja berkenalan dalam sebuah event pelatihan dan aku tak terlalu bagus dalam mengingat nama) pernah bertanya padaku tentang pilihan masa depan. Bukan sesuatu yang serius mungkin, tapi aku rasa ini penting untuk dipertimbangkan.
Dia bertanya apakah jika sudah menikah nanti aku akan tetap bekerja atau cukup menjadi ibu rumahtangga biasa?
Aku bingung untuk menjawab karena sejujurnya belum terlintas dalam pikiranku tentang kehidupan setelah aku lulus kuliah nanti, semua masih abstrak dan belum terkonsep dengan baik. Bahkan sama sekali tak ada pernikahan dalam pikiranku saat ini. Tapi yah siapa yang tahu akan ada pertanyaan menggelikan seperti ini. So, aku mencoba berkelana mencari gambaranku tentang masa depanku setelah menikah (perhatian! Aku bukan para normal. Ini hanya bentuk eksistensi sisi lebai dalam kosa kataku). Dan Yip! Aku tahu jawabannya. Aku akan tetap bekerja tak peduli sekaya apapun suamiku nanti. WhY? Dia bertanya dengan serius.
Aku diam sejenak mencari alasan yang tepat.
“hm, kupikir karena aku bukanlah orang yang betah berlama-lama berdiam diri tanpa berkarya. Aku mempunyai banyak mimpi yang satu persatu telah gugur karena berbagai pertimbangan dan lewatnya kesempatan. Aku memiliki keluarga yang harus kutanggung. Aku tak ingin merepotkan suamiku kelak dan membebani pikiran suamiku dengan masalah keluargaku atau orang-orang yang ingin kubahagiakan. Akupun tak ingin membuat otakku berkarat dan membiarkan ilmu yang selama ini kucari menguap karena tak kugunakan semaksimal mungkin. Bahkan mimpi terbesarku adalah untuk mencapai gelar tertinggi dalam pendidikan. So, aku membutuhkan banyak biaya untuk itu. Aku tak ingin membebani suamiku dengan ambisiku, ia cukup menghidupiku dan anak-anakku saja. Lagipula aku bukanlah orang yang suka terlalu bergantung pada orang lain. Bukannya aku ingin mengucilkan suamiku, tapi hidup adalah pilihan dan aku pikir wajar jika aku menuntut hakku sebagai wanita modern dengan catatan aku tak menelantarkan kewajibanku dan peranku sebagai istri dari suami dan ibu dari anak-anaku kelak.”
Ia Nampak mencerna alasanku. Dan setelah itu kami disibukkan dengan materi pelatihan yang cukup sulit. Namun setelah itu aku kembali berpikir, aku bertanya lagi pada hatiku tentang alasanku itu. Aku merasa janggal sekaligus merasa bersalah karena tidak dapat mengatakan yang sejujurnya pada dirinya. Sejujurnya aku hanya takut jika suatu hari aku harus menghadapi berbagai permasalahan dalam rumah tanggaku baik dalam finansial atau bahkan kemungkinan terburuk yaitu perceraian maka aku tak akan kehilangan peganganku dengan dramatis. Yah kita harus memikirkan segala yang terburuk yang mungkin terjadi bukan?
Aku pernah bertukar pikiran dengan kakak sepupuku yang menjadi janda setelah bercerai dengan suaminya. Aku bertanya padanya tentang alasan perceraiannya dan ia menjawab :
“apa lagi yang bisa kita lakukan ? jika hati ini sudah tak lagi terpaut dan hanya sakit yang dirasa? Aku memilih untuk berpisah bukan semata karena egoku. Aku memilih untuk menyelamatkan anak-anakku. Aku memilih untuk berdiri sendiri, berdikari tanpa tersakiti. Karena bersamanya tak beda dengan tahanan dalam penjara kenistaan. Dengannya aku tak berharga, tak berdaya, tak berkarya dan tak bicara. Namun kini kubuktikan bahwa keyakinan diri ini tak hanya sebatas kata berbumbu intuisi. Aku berdiri dengan kebahagiaan dan masa depan anakku terlukis jelas nan indah di masa mendatang dan aku tak pernah menyesal dengan keputusanku.”
Yah aku salut padanya, kini dia benar-benar menjadi sukses dengan kemampuannya sendiri. Ia yang dulu meringkuk berhadapan dengan kekerasan, pengekangan dan penyiksaan dapat berjalan tegap dan membuktikan dirinya pada dunia. Yah, darinya aku mendapat sedikit trauma akan rumah tangga, namun aku pun menangkap semangat, keberanian, dan juga inspirasi dari sosoknya.

Aku pun berharap agar banyak perempuan di luar sana dapat bahagia dengan kehidupannya masing-masing.

Makan g Makan Ngumpul

(Makan g Makan Ngumpul)

from http://kabutmetamorfosa123.blogspot.com/

"Aku selalu menikmati setiap detik yang ku habiskan bersama kalian....
setiap perjalan, tawa dan tangis yang selalu ku kenang....
Setiap butir nasi yang kunikmati di tengah gelak tawa kesederhanaan
Setiap teguk air kebersamaan..."


uw....liburan yang g seru kawan...tanpa kalian semua liburan ini berasa gimana gituw....
g rame, g seru, g ada tantangan....
mu ke gunung gda temennya.....padahal kangeeen banget mu naek...argh...
oya, masih inget g ma foto nie...
ini foto diambil waktu survey ke wanagama buat Diksar Mapala Agny Angkatan XIV....ingat?
kita makan di lapangan samping joglo....di bawah bohon apa gitu....
kita makan sekitar jam 2an lah...pdahal kita blum sarapan dari rumah.....gara-gara mbah n kak bangkit telat nie...alhasil, begitu nasi dituang ke sobekan tas kresek dan sayur disebarkan....semua ludes dalam beberapa detik....

habis itu, tentu aja narsis...hehe, teteup...
pokokny makan g makan kumpul



Juli 2011

EidelWeis

EIDELWEISS....IN MY MIND

(from http://kabutmetamorfosa123.blogspot.com/)


BUNGA RATU - Edelweiss
dari Wikipedia, encyclopedia-bebas
Edelweiss (Leontopodium alpinum), salah satu bunga yang sangat terkenal sebagai "BUNGA GUNUNG EROPA", sebagai salah satu keluarga BUNGA MATAHARI (Asteraceae).

Nama bunga ini berasal dari GERMAN edel (berarti Mulia-noble) dan weiß (berarti Putih - white). Nama Genusnya Leontopodium berarti "LION'S paw" atau CAKAR MACAN, sedangkan LEON dari bahasa YUNANI - leon (lion) and podion ( KAKI, pous, foot).
  • Bunga ini bisa tumbuh mencapai ukuran 3-20cm (dalam perawatan dan pengembangan bisa mencapai 40cm). Daun yang muncul nampak seperti WOOL karena tertutup oleh BULU-BULU yang PUTIH.
  • Bunga ini mekar antara bulan JULI dan SEPTEMBER . Dan uniknya penyebaran bunga ini lebih menyukai daerah berbatu dan berkapur pada ketinggian 2000-2900m.
  • Bunga ini tidak beracun, dan sudah digunakan sebagai obat tradisional untuk melawan penyakit yang berhubungan dengan perut (pembedahan perut) dan penyakit yang berhubungan dengan pernapasan.
  • Bunga ini biasanya tumbuh di lokasi yang tidak terjangkau, yang mana ini banyak terjadi di negara Slovenia dengan pegunungannya . Karena warna PUTIH-nya maka Switzerland menjadikannya sebagai simbol ke-MURNI-an dan ke-CANTIK-an, sehingga bangsa ROMANIA menyebutnya sebagai, floarea reginei (Queen's flower).
Edelweis juga menjadi simbol keabadian karena  keistimewaannya. Bunga ini takkan mati meski telah dipetik. Aku tak pernah bermimpi jika suatu saat aku bisa menatapnya dengan mata kepalaku sendiri dan menyentuh setiap inci darinya. Sudah lama aku dihinggapi rasa penasaran hingga aku lupa itu kapan. Namun rasa penasaran ini terjawab sudah. Lawu dan Merbabu...tempat pertemuanku dengannya....di ketinggian +2000mdpl aku melihatnya, menyentuhnya....
Aku hanya berharap bahwa setiap mimpi yang ku punya akan tetap abadi hingga tak ada kata menyerah sedikitpun dalam hidupku.
Aku berharap persahabatan dan cinta yang kumiliki takkan hilang meski masa tak lagi sama.
Aku hanya berharap bahwa semua memori yang kurekam selama ini takkan hilang meski jasad tak lagi tertali...

Keabadian yang kunanti bukanlah untuk hidup...Namun mimpi dan memori yang ku harap terus hakiki.
Untuk hidup dan mereka yang ku sayang....untuk keluarga dan saudara...Ketika ku teriakkan kata JAYA! maka berjayalah.....berikutnya...ingin ku abadikan tanpa ku petik sedikitpun.....


FOR AGNY! JAYA!

Hikmah di Lawu


Aku selalu ingat masa-masa itu, ketika kami berdelapan masih utuh...
Tanggal 5-7 Juli 2010 aku (Apem) bersama ketujuh sahabatku, Andini "Kacang" Trawa, Maria "Simbok" Ulfah, Rice Yanti "Ramon" Rumaekeu, Herman "Micek" Yarangga, Jasmani "Mbah Darmo", Eko "Jipang" Muchlisin, dan Rio "Plengeh" Melakukan Pendakian Slayer ke Puncak Hargo Dumilah, Lawu. 

Bagi kami yang masih awam tentang segala hal mengenai pendakian membuat kami sedikit gentar. Namun pada akhirnya kami dapat menyelesaikan pendakian dengan sukses. Ini adalah pendakian pertama kami untuk mengukuhkan diri kami sebagai bagian dari MAPALA AGNY tercinta. Sebuah pembuktian diri akan keberanian, kejujuran, kepedulian dan kesetia kawanan. Sebuah perjalanan yang telah membuka jati diri kami. Sebuah pembuktian akan kuasa Sang Pencipta.


Kami menemukan apa arti kebersamaan dan usaha.
Di tengah keputusasaan yang menyergap
Kami di hadapkan pada 2 pilihan.
Maju atau mundur
dan kami pilih maju

Hidup dan Jayalah AGNYku....
semoga kita kan terus bersama
Salam Rimba!!


JAYA!!!

Surgamu

Surgamu


  
Tirai surya telah tersibak

Mengungkap cahaya yang kian terkuak

Berpendar masuk

Cahaya nan menusuk

 
Surya menyapa
 
Menantimu membuka mata
 
Dan memandang dengan terpana
 
Menatap surya mengingatkan akan sang pencipta


Semilir angin membelai kalbu

Sejalan dengan hidup yang tabu

Namun kamu tak mau tahu

Apakah matimu menjadi abu

Apakah matimu tersenyum kaku

Atau hilang bercampur debu

Aku tak tahu

Itu kehidupanmu dan kau sebagai pelaku

Yang menentukan tiap langkahmu

Surga bukan hal tabu
 
Bukan pula hal yang semu
 
Bila imanmu kokoh bak gunung berbatu
 
Niscaya surga tujuanmu
 
Maka tentukan dimana surgamu 
 
 
 
(NB: puisi ini udah lama bget aq tulis n udah aku posting di blog lamaku yang udah gak bsa kubukak lagi (http://apem-story.blogspot.com/))

Minggu, 28 Oktober 2012

Tentang Hati


Sahabat? Saudara?


Aku mempercayaimu
Mencoba memahamimu
Memaafkan kesalahanmu

Sekali….
Dua kali….
Tiga kali……
Dan kesekian kali
Aku menampik prasangkaku

Hingga kau mengungkit kesetiaanku,
Cukup !
Tak ada lagi kesempatan
Lelah sudah aku bertahan
Pil pahit telah kutelan
Kau bahkan tak mengingatnya


Aku masih mencoba percaya
Sekali lagi
Tapi ternyata memang tak bisa
Tak boleh
Jangan
Karena kini kutersadar
Lama kuterkurung dalam pemikiran
Bahwa kau adalah sahabat dan saudara
Namun air tak sekental darah
Aku tak boleh marah
Hanya boleh menyerah
Untuk mengartikan kembali kata-kata itu

MerEnunG


TENTANG PILIHAN…

Seseorang (yang aku lupa namanya karena kami baru saja berkenalan dalam sebuah event pelatihan dan aku tak terlalu bagus dalam mengingat nama) pernah bertanya padaku tentang pilihan masa depan. Bukan sesuatu yang serius mungkin, tapi aku rasa ini penting untuk dipertimbangkan.
Dia bertanya apakah jika sudah menikah nanti aku akan tetap bekerja atau cukup menjadi ibu rumahtangga biasa?
Aku bingung untuk menjawab karena sejujurnya belum terlintas dalam pikiranku tentang kehidupan setelah aku lulus kuliah nanti, semua masih abstrak dan belum terkonsep dengan baik. Bahkan sama sekali tak ada pernikahan dalam pikiranku saat ini. Tapi yah siapa yang tahu akan ada pertanyaan menggelikan seperti ini. So, aku mencoba berkelana mencari gambaranku tentang masa depanku setelah menikah (perhatian! Aku bukan para normal. Ini hanya bentuk eksistensi sisi lebai dalam kosa kataku). Dan Yip! Aku tahu jawabannya. Aku akan tetap bekerja tak peduli sekaya apapun suamiku nanti. WhY? Dia bertanya dengan serius.
Aku diam sejenak mencari alasan yang tepat.
“hm, kupikir karena aku bukanlah orang yang betah berlama-lama berdiam diri tanpa berkarya. Aku mempunyai banyak mimpi yang satu persatu telah gugur karena berbagai pertimbangan dan lewatnya kesempatan. Aku memiliki keluarga yang harus kutanggung. Aku tak ingin merepotkan suamiku kelak dan membebani pikiran suamiku dengan masalah keluargaku atau orang-orang yang ingin kubahagiakan. Akupun tak ingin membuat otakku berkarat dan membiarkan ilmu yang selama ini kucari menguap karena tak kugunakan semaksimal mungkin. Bahkan mimpi terbesarku adalah untuk mencapai gelar tertinggi dalam pendidikan. So, aku membutuhkan banyak biaya untuk itu. Aku tak ingin membebani suamiku dengan ambisiku, ia cukup menghidupiku dan anak-anakku saja. Lagipula aku bukanlah orang yang suka terlalu bergantung pada orang lain. Bukannya aku ingin mengucilkan suamiku, tapi hidup adalah pilihan dan aku pikir wajar jika aku menuntut hakku sebagai wanita modern dengan catatan aku tak menelantarkan kewajibanku dan peranku sebagai istri dari suami dan ibu dari anak-anaku kelak.”
Ia Nampak mencerna alasanku. Dan setelah itu kami disibukkan dengan materi pelatihan yang cukup sulit. Namun setelah itu aku kembali berpikir, aku bertanya lagi pada hatiku tentang alasanku itu. Aku merasa janggal sekaligus merasa bersalah karena tidak dapat mengatakan yang sejujurnya pada dirinya. Sejujurnya aku hanya takut jika suatu hari aku harus menghadapi berbagai permasalahan dalam rumah tanggaku baik dalam finansial atau bahkan kemungkinan terburuk yaitu perceraian maka aku tak akan kehilangan peganganku dengan dramatis. Yah kita harus memikirkan segala yang terburuk yang mungkin terjadi bukan?

Aku pernah bertukar pikiran dengan kakak sepupuku yang menjadi janda setelah bercerai dengan suaminya. Aku bertanya padanya tentang alasan perceraiannya dan ia menjawab :
“apa lagi yang bisa kita lakukan ? jika hati ini sudah tak lagi terpaut dan hanya sakit yang dirasa? Aku memilih untuk berpisah bukan semata karena egoku. Aku memilih untuk menyelamatkan anak-anakku. Aku memilih untuk berdiri sendiri, berdikari tanpa tersakiti. Karena bersamanya tak beda dengan tahanan dalam penjara kenistaan. Dengannya aku tak berharga, tak berdaya, tak berkarya dan tak bicara. Namun kini kubuktikan bahwa keyakinan diri ini tak hanya sebatas kata berbumbu intuisi. Aku berdiri dengan kebahagiaan dan masa depan anakku terlukis jelas nan indah di masa mendatang dan aku tak pernah menyesal dengan keputusanku.”
Yah aku salut padanya, kini dia benar-benar menjadi sukses dengan kemampuannya sendiri. Ia yang dulu meringkuk berhadapan dengan kekerasan, pengekangan dan penyiksaan dapat berjalan tegap dan membuktikan dirinya pada dunia. Yah, darinya aku mendapat sedikit trauma akan rumah tangga, namun aku pun menangkap semangat, keberanian, dan juga inspirasi dari sosoknya.

Aku pun berharap agar banyak perempuan di luar sana dapat bahagia dengan kehidupannya masing-masing.