aKU

aKU

Minggu, 28 Oktober 2012

MerEnunG


TENTANG PILIHAN…

Seseorang (yang aku lupa namanya karena kami baru saja berkenalan dalam sebuah event pelatihan dan aku tak terlalu bagus dalam mengingat nama) pernah bertanya padaku tentang pilihan masa depan. Bukan sesuatu yang serius mungkin, tapi aku rasa ini penting untuk dipertimbangkan.
Dia bertanya apakah jika sudah menikah nanti aku akan tetap bekerja atau cukup menjadi ibu rumahtangga biasa?
Aku bingung untuk menjawab karena sejujurnya belum terlintas dalam pikiranku tentang kehidupan setelah aku lulus kuliah nanti, semua masih abstrak dan belum terkonsep dengan baik. Bahkan sama sekali tak ada pernikahan dalam pikiranku saat ini. Tapi yah siapa yang tahu akan ada pertanyaan menggelikan seperti ini. So, aku mencoba berkelana mencari gambaranku tentang masa depanku setelah menikah (perhatian! Aku bukan para normal. Ini hanya bentuk eksistensi sisi lebai dalam kosa kataku). Dan Yip! Aku tahu jawabannya. Aku akan tetap bekerja tak peduli sekaya apapun suamiku nanti. WhY? Dia bertanya dengan serius.
Aku diam sejenak mencari alasan yang tepat.
“hm, kupikir karena aku bukanlah orang yang betah berlama-lama berdiam diri tanpa berkarya. Aku mempunyai banyak mimpi yang satu persatu telah gugur karena berbagai pertimbangan dan lewatnya kesempatan. Aku memiliki keluarga yang harus kutanggung. Aku tak ingin merepotkan suamiku kelak dan membebani pikiran suamiku dengan masalah keluargaku atau orang-orang yang ingin kubahagiakan. Akupun tak ingin membuat otakku berkarat dan membiarkan ilmu yang selama ini kucari menguap karena tak kugunakan semaksimal mungkin. Bahkan mimpi terbesarku adalah untuk mencapai gelar tertinggi dalam pendidikan. So, aku membutuhkan banyak biaya untuk itu. Aku tak ingin membebani suamiku dengan ambisiku, ia cukup menghidupiku dan anak-anakku saja. Lagipula aku bukanlah orang yang suka terlalu bergantung pada orang lain. Bukannya aku ingin mengucilkan suamiku, tapi hidup adalah pilihan dan aku pikir wajar jika aku menuntut hakku sebagai wanita modern dengan catatan aku tak menelantarkan kewajibanku dan peranku sebagai istri dari suami dan ibu dari anak-anaku kelak.”
Ia Nampak mencerna alasanku. Dan setelah itu kami disibukkan dengan materi pelatihan yang cukup sulit. Namun setelah itu aku kembali berpikir, aku bertanya lagi pada hatiku tentang alasanku itu. Aku merasa janggal sekaligus merasa bersalah karena tidak dapat mengatakan yang sejujurnya pada dirinya. Sejujurnya aku hanya takut jika suatu hari aku harus menghadapi berbagai permasalahan dalam rumah tanggaku baik dalam finansial atau bahkan kemungkinan terburuk yaitu perceraian maka aku tak akan kehilangan peganganku dengan dramatis. Yah kita harus memikirkan segala yang terburuk yang mungkin terjadi bukan?

Aku pernah bertukar pikiran dengan kakak sepupuku yang menjadi janda setelah bercerai dengan suaminya. Aku bertanya padanya tentang alasan perceraiannya dan ia menjawab :
“apa lagi yang bisa kita lakukan ? jika hati ini sudah tak lagi terpaut dan hanya sakit yang dirasa? Aku memilih untuk berpisah bukan semata karena egoku. Aku memilih untuk menyelamatkan anak-anakku. Aku memilih untuk berdiri sendiri, berdikari tanpa tersakiti. Karena bersamanya tak beda dengan tahanan dalam penjara kenistaan. Dengannya aku tak berharga, tak berdaya, tak berkarya dan tak bicara. Namun kini kubuktikan bahwa keyakinan diri ini tak hanya sebatas kata berbumbu intuisi. Aku berdiri dengan kebahagiaan dan masa depan anakku terlukis jelas nan indah di masa mendatang dan aku tak pernah menyesal dengan keputusanku.”
Yah aku salut padanya, kini dia benar-benar menjadi sukses dengan kemampuannya sendiri. Ia yang dulu meringkuk berhadapan dengan kekerasan, pengekangan dan penyiksaan dapat berjalan tegap dan membuktikan dirinya pada dunia. Yah, darinya aku mendapat sedikit trauma akan rumah tangga, namun aku pun menangkap semangat, keberanian, dan juga inspirasi dari sosoknya.

Aku pun berharap agar banyak perempuan di luar sana dapat bahagia dengan kehidupannya masing-masing.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar