aKU

aKU

Kamis, 28 Maret 2013

Lomba Blog



Share Button
lomba blog pancasilaArus globalisasi di era teknologi informasi dan social media seperti saat ini, tentu tak terbendung lagi. Berbagai macam budaya dan gaya hidup mewarnai dan memengaruhi kehidupan kita sehari-hari.
Sebagai sebuah bangsa yang punya identitas unik, bagaimanakah posisi kita di tengah arus globalisasi? Bagaimana peran Pancasila dalam menguatkan identitas bangsa kita, di tengah “kepungan” komunitas global dan berbagai macam budaya tersebut?
Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itulah, Yayasan Pusaka Indonesia mempersembahkan:

Lomba Menulis Blog: Penguatan Identitas Bangsa dalam Komunitas Global dan Multikultural

Hadiah:

  1. Juara I:
    - Uang tunai Rp 2.000.000
    - Voucher penerbitan buku senilai Rp 200.000 dari Dapur Buku*
  2. Juara II:
    - Uang tunai Rp 1.500.000
    - Voucher penerbitan buku senilai Rp 150.000 dari Dapur Buku*
  3. Juara III:
    - Uang tunai Rp 1.000.000
    - Voucher penerbitan buku senilai Rp 100.000 dari Dapur Buku*
  4. Tulisan para pemenang beserta 10 tulisan terbaik lainnya akan diterbitkan oleh Dapur Buku. Masing-masing penulis akan mendapat jatah 1 (satu) eksemplar bukunya secara gratis.
Keterangan:
* Hadiah voucher penerbitan dari Dapur Buku tidak dapat diuangkan, dan tidak dapat ditukar/digabung dengan hadiah apapun

Juri:

amril_taufik_gobel Amril Taufik Gobel (blogger senior)
Donny BU Donny BU (aktivis Internet Sehat)
jonru Jonru (blogger, trainer, pendiri Dapur Buku)
Keputusan juri tidak bisa diganggu gugat.

Persyaratan Lomba:

  1. Pendaftaran lomba ini tidak dipungut biaya apapun alias gratis.
  2. Peserta lomba adalah para blogger Indonesia, baik yang menetap di Indonesia maupun luar negeri.
  3. Bebas pakai blog engine apa saja (WordPress, Blogspot, Kompasiana, Blogdetik, dan sebagainya), baik yang domain sendiri maupun yang gratisan.
  4. Tulisan harus hasil karya sendiri, bukan jiplakan atau copy paste dari tulisan orang lain.
  5. Tulisan belum pernah dipublikasikan sebelumnya.
  6. Tulisan menggunakan bahasa Indonesia.
  7. Di dalam judul tulisan harus ada kata Pancasila.
  8. Gaya penulisan bebas, sesuaikan saja dengan karakter dan gaya khas Anda.
  9. Penggunaan istilah-istilah asing atau daerah diperbolehkan selama itu diperlukan sebagai bahan referensi. Yang penting gunakan seperlunya, dan – jika perlu – cantumkan artinya dalam bahasa Indonesia.
  10. Satu orang blogger hanya boleh mengirimkan satu tulisan.
  11. Tulisan harus sesuai dengan tema lomba ini, yakni “Penguatan Identitas Bangsa dalam Komunitas Global dan Multikultural”.
  12. Tulisan tidak boleh mengandung hal-hal yang berbau SARA, kebencian, permusuhan, dan/atau hal-hal negatif dan tidak patut lainnya.
  13. Panjang tulisan minimal 3.000 karakter, maksimal 10.000 karakter.
  14. Peserta wajib me-Like Fan Page Dapur Buku.
  15. Peserta wajib mencantumkan banner lomba pada tulisan yang diikutsertakan pada lomba ini. Lalu banner di-link ke http://www.pusakaindonesia.org. Berikut bannner tersebut: lomba blog pusaka indonesia 2013
    Panduan tentang cara memasukan banner ke dalam tulisan Anda, silahkan baca DI SINI. Atau bagi Anda yang sudah paham HTML, silahkan ambil kode HTML-nya di sini.
NB: Ini bukan lomba SEO. Keyword dan posisi di Google bukan menjadi salah satu unsur penilaian juri.

Jadwal:

Batas akhir pengiriman naskah: 28 Maret 2013
Nama-nama pemenang akan diumumkan di website ini, Fan Page Dapur Buku dan Twitter @Pusaka_ID sekitar 7 hari setelah deadline.

Langkah-langkah Pendaftaran:

  1. Tulislah artikel di blog Anda, sesuai dengan persyaratan lomba ini.
  2. Pastikan Anda sudah mematuhi SEMUA persyaratan lomba. Jangan sampai ada yang terlewat
  3. Daftarkan tulisan Anda ke lomba ini, dengan cara mengisi Formulir Pendaftaran.
  4. Laporkan pendaftaran Anda dengan cara mengisi komentar pada note/catatan di Fan Page Dapur Buku. KLIK DI SINI >>
  5. Silahkan tunggu pengumuman pemenang dari panitia.

Unsur-unsur Penilaian:

  1. Kesesuaian dengan tema lomba.
  2. Orisinalitas ide.
  3. Kepatuhan terhadap persyaratan dan langkah-langkah pendaftaran lomba.
  4. Gaya dan teknik penulisan.
  5. Kualitas isi tulisan.

Hubungi Kami:

Untuk pertanyaan, masukan, saran, dan sebagainya seputar lomba ini, silahkan KLIK DI SINI >>

Penyelenggara:

Lomba blog ini diselenggarakan oleh Yayasan Pusaka Indonesia, didukung oleh Penerbit Dapur Buku.

Pendaftaran:

pendaftaran - klik di sini

Lomba Menulis Blog : Penguatan Identitas Bangsa dalam Komunitas Global dan Multikultural


http://www.pusakaindonesia.org

Karakter Pancasila, Jatidiri Bangsa

oleh : Marina Galuh Kirana


Globalisasi memberikan dampak yang besar pada hampir semua sektor kehidupan, khususnya bidang iptek dan teknologi informasi. Kedua bidang tersebut mengalami kemajuan yang signifikan dari tahun ke tahun. Kondisi tersebut tampak dari perkembangan berbagai fasilitas teknologi dan informasi yang semakin canggih dan memudahkan setiap orang untuk mengakses berbagai berita dan informasi dari seluruh dunia dengan memanfaakan fasilitas internet.
Internet menjadi semacam jendela bagi masyarakat untuk melihat, mendengar dan mengenal dunia beserta budaya negera-negara di seluruh belahan dunia dengan jelas. Masyarakat dapat mengikuti perkembangan tren, gaya hidup dan kebudayaan di tiap negara dengan sangat mudah. Bahkan Indonesia turut terlarut dalam arus modernisasi dan gaulisme luar negeri.
Tidak ada yang salah dengan hal tersebut selagi masih sebatas wajar. Namun ketika perkembangan tersebut sudah melewati batas norma-norma kesopanan, agama dan norma-norma lain yang berlaku di Indonesia, maka hal tersebut tidak dapat dibiarkan.
Seperti yang kita tahu bahwa negeri ini telah mengalami banyak perubahan dari mulai jaman kerajaan hingga saat ini. Ada perkembangan positif, namun banyak pula yang negatif. Wajar saja sebenarnya, tapi perlu disadari bahwa perkembangan tersebut mulai terasa sangat menghawatirkan dan mengancam masa depan bangsa ini.
Terdengar berlebihan, namun itulah kenyataannya. Bangsa ini mulai kehilangan jatidirinya sebagai bangsa Indonesia, bangsa yang berbudaya, bangsa yang menjunjung tinggi nilai-nilai dan kearifan lokal tanah ibu ini.
Mengamati lingkungan sekitar, ada banyak hal yang mengindikasikan lunturnya jatidiri bangsa ini. Parahnya kondisi tersebut justru berkembang pesat di kalangan anak muda dan remaja yang notabene merupakan aset bangsa di masa depan.
Kaum muda jaman sekarang terkesan “memuja” budaya luar dan malu dengan budaya negeri sendiri. Mayoritas dari mereka yang menjadi korban modernisasi merasa bangga ketika mereka berpakaian serba mini dan terbuka, namun malu atau terpaksa ketika harus mengenakan kebaya dan pakaian adat Indonesia, mereka bilang itu kuno. Mereka merasa percaya diri ketika berjalan di tengan kota atau di mal dengan rambut berwarna warni, namun ketika mereka harus mengenakan sanggul mereka merasa tersiksa. Menyanyikan lagu-lagu modern terasa lebih menyenangkan daripada menyanyikan lagu tradisional. Bahkan peminat tari daerah kini menjadi minoritas dibandingkan dengan tari modern yang ngetrend akhir-akhir ini.
Lalu bagaimana dengan bahasa? Tentu hal ini perlu diperjelas karena bahasa Indonesia mulai tercemar oleh pengaruh bahasa-bahasa gaul dan bahasa berlebihan yang disebut bahasa alay. Generasi sekarang bahkan anak-anak kecil jauh lebih mengenal bahasa gaul dan alay dari pada bahasa Indonesia yang benar. Bahkan kondisi ini menjadi lucu ketika seseorang dianggap ketinggalan jaman jika tidak tahu tentang bahasa-bahasa itu. Lalu bagaimana dengan bahasa kita sendiri? Bahasa Indonesia? apakah kita juga merasa malu jika tidak dapat berbahasa Indonesia dengan benar?
Kondisi di atas merupakan dampak nyata dari pengaruh budaya luar yang tidak terkontrol sehingga menggusur keberadaan budaya-budaya Indonesia dan menggerogoti identitas bangsa ini. Keadaan ini menjadikan identitas bangsa ini semakin kabur dan abstrak. Sebuah ironi lain mengingat Indonesia merupakan negara yang kaya akan budaya dan kebinekaannya. Namun demikian hal tersebut bukanlah masalah terbesarnya. Masalah utamanya adalah ketika kita meresapi pelanggaran moral di Indonesia yang kerap kali terjadi.
Bangsa ini tampaknya mulai melupakan etika dalam kehidupan bermasyarakat. Tata krama, menghormati orang yang lebih tua, sopan santun, kepedulian terhadap lingkungan dan lain sebagainya menjadi suatu indikasi kemerosotan nilai etika di masyarakat. Indikasi tersebut diperjelas dan diperparah dengan berbagai tayangan televisi yang membiasakan masyarakat untuk mendengar dan melihat adegan saling menghina, berkata kasar, melawan orang tua, melawan guru serta eksplorasi karakter antagonis yang terkadang terlalu berlebihan sehingga sedikit banyak memberi dampak negatif dalam budaya etika masyarakat.
Belum lagi masalah etika terselesaikan, masalah ketaatan hukum dan peraturan menjadi masalah yang tidak terelakkan. Kriminalitas dan berbagai pelanggaran peraturan hukum selalu terpampang di berbagai media berita baik media massa, maupun media cetak. Setiap harinya selalu muncul berita-berita baru yang terdengar miris mengingat Indonesia adalah negara hukum. Bahkan yang menjadi janggal namun biasa adalah ketika di masyarakat berkembang argumen bahwa “aturan ada untuk dilanggar”. Sungguh ironis.
Selain etika dan hukum, permasalahan negeri ini yang sekarang selalu menjadi sorotan adalah masalah integritas masyarakat dan pemerintah yang amburadul. Korupsi adalah produk terlaris dari amburadulnya integritas bangsa ini, dan korupsi pula yang membuat Indonesia menjadi negara miskin ketika seharusnya negara ini dapat menjadi negara kaya dengan segala yang dimiliki. Bukanlah hal yang heboh ketika korupsi menjadi jawaban dari semua patologi birokrasi di negeri ini.
Lalu bagaimana dengan prinsip menghormati hak-hak orang lain? Indonesia tampaknya sangat ahli dalam mengingkari prinsip ini dan kita harus mengakui itu. Lunturnya penghormatan terhadap hak-hak orang lain membuat Indonesia sering mengalami gejolak. Dengan kebinekaan Indonesia, penghormatan hak-hak individu satu sama lain adalah perekat persatuan yang paling ampuh. Namun ketika hal tersebut lemah, yang terjadi tentunya sudah dapat ditebak. pertikaian, pembunuhan, peningkatan kriminalitas, saling menghina, korupsi hingga berulang kali terjadi perang oleh beberapa daerah untuk menuntut kemerdekaan sendiri. Kerugian yang begitu besar karena satu prinsip penting.
Prinsip lain yang sering dikesampingkan adalah prinsip untuk bertanggung jawab terhadap tugas yang diemban. Itulah mengapa Indonesia tidak dapat menjadi seperti negara lain dengan etos kerja yang tinggi, misalnya Jepang. Prinsip ini terkait pula dengan prinsip senang bekerja dan malu bermalas-malasan. Rendahnya tanggung jawab manusia Indonesia terhadap tugas dan kewajibannya pun merupakan bentuk dari sifat malas serta menganggap kewajibannya sebagai beban. Kondisi tersebut membuat kinerja negeri ini menjadi lambat dan kurang dapat dipertanggung jawabkan.
Semua prinsip tersebut disempurnakan dengan karakter masyarakat Indonesia yang konsumtif, boros dan tidak berpikir panjang dalam menginvestasikan masa depannya. Karakter ini menjadikan mayoritas manusia Indonesia sebagai manusia yang pasif dan ceroboh.
Banyaknya pelanggaran dan penyimpangan prinsip-prinsip tersebut nyatanya memberikan dampak yang begitu besar dalam pembentukan karakter Indonesia. Bangsa ini seakan menjadi terbiasa dengan berbagai pelanggaran nilai-nilai moral dan prinsip-prinsip tersebut. Kondisi itu menjadikan bangsa Indonesia tidak terbiasa untuk meluruskan dan memperbaiki kerusakan moral yang terjadi. Tampaknya hal tersebut telah menjadi suatu budaya hidup masyarakat Indonesia kini.
         Tidaklah aneh jika setelah lebih dari 67 tahun Indonesia merdeka kita masih saja berjalan di tempat bahkan perlahan mulai mengalami kemerosotan. Karakter negeri ini masih sangat labil, fase ini adalah fase yang paling berbahaya. Apabila tidak segera diperbaiki maka perlahan tapi pasti Indonesia akan kehilangan karakternya dan kehilangan jatidirinya.

Menguatkan Karakter Pancasila
         Melihat krisis karakter yang tejadi di negeri ini maka peran pendidikan karakter menjadi sangat penting, terutama karena krisis yang terjadi telah menggerogoti bangsa ini hingga ke akarnya.
         Sudah saatnya pemerintah Indonesia berkonsentrasi pada perbaikan karakter bangsanya. Sudah bukan saatnya lagi Indonesia membahas bobroknya moral dan karakter bangsa ini sebagai wacana muluk namun tidak terlaksana karena tertutup masalah politik yang tidak ada habisnya.
       Pendidikan karakter seharusnya mulai disejajarkan sebagai focus pembangunan sejalan dengan pembangunan ekonomi, pendidikan, kesehatan dan sector lainnya. Indonesia harus menjadi negara dengan karakter yang kuat agar menjadi negara yang kuat pula. Tidak hanya kuat, dengan semua yang dimiliki Indonesia, seharusnya bangsa ini pun dapat menjadi bangsa yang unggul. Namun untuk menjadi bangsa yang unggul, Indonesia harus mulai menginvestasikan individu-individu unggul yang pantas menjadi generasi penggerak pembangunan negeri ini.
            Lalu apa saja kriteria individu berkarakter unggul itu? Jawabannya terletak pada dasar Negara kita, pancasila. Lima sila dalam pancasila mewakili semua kriteria yang diperlukan. Bahkan dapat dikatakan bahwa pancasila merupakan bentuk lain karakter unggul bangsa Indonesia, tentunya apabila diterapkan dengan baik dan benar.
        Namun sayangnya pancasila yang juga merupakan ideologi Negara ini pun mulai tergerus arus globalisasi dan perlahan kehilangan perannya. Penghayatan dan penerapan lima sila pancasila tersebut sesungguhnya sudah sangat cukup untuk merubah bangsa Indonesia menjadi bangsa yang berkarakter. Namun kesadaran akan pancasila tampaknya harus mulai dipupuk kembali sejak dini.
           Pancasila semestinya bukan lagi hanya sebatas bahan hapalan dari materi pelajaran kewarganegaraan, pancasila semestinya tidak hanya didengar keika upacara bendera, semestinya pancasila dipelajari, diresapi, dimengerti dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari sejak dini.
            Tidak pernah ada kata terlambat untuk sebuah perbaikan, yang ada hanyalah ketakutan akan adanya perubahan, dan itu adalah penyakit pemerintah kita. Untuk itu, sejak dini perlu adanya upaya pembentukan karakter berbasis pancasila sebagai investasi masa depan bangsa ini. Bukan perkara mudah memang, tapi harus dicoba.
            Pancasila harus tertanam kuat dalam hati rakyat Indonesia karena pancasila merupakan dasar negara kita, ideology bangsa ini dan jatidiri bangsa Indonesia.

Rabu, 06 Maret 2013

STill about 21 me


Masih seputar ulang tahunku….
Aku seneng banget karena pada tanggal 4 Maretnya aku dapet surprise dari my beloved friends, Mbok n Ramon, again. TKP-nya di kost Ramon, ada kue tart, lilin dan mereka. Sebuah kejutan kecil yang membuatku tersenyum, oh God! I LOVE THEM, MORE THAN BEFORE!



Bertiga rasanya menyenangkan, walau tak seramai tahun-tahun sebelumnya, dengan tepung, air, cat, telor dan apapun yang busuk dan bau, serta tentu saja karena kami hanya bertiga.

Ada yang hilang sebenarnya, ada yang kurang tentu, tidak aneh, tapi itu cukup. Sangat cukup. Tapi tebak! Malam itu aku dapat hadiah, Novel yang aku pengen! A Novel About MIKA! N gelas Tupperware cantik yang kubutuhkan.

Pokoknya malam itu aku senang, dan itu penting.

So, makasih buat kalian berdua, kalian selalu ada buat aku n kalian lebih dari sekedar sista for me (walaupun saat aku bilang “aku pengen cium kalian” or “will you marry me?” karena sangat terharu, kalian dengan tegas bilang “NO! BIG NO!” dengan tangan menyilang di depan mukaku).hehe.
THANKS!

WE ARE MORE THAN A FRIENDS!!

21 ME!


3 Maret itu selalu membuatku tua.
3 Maret itu selalu membuatku hidup.
3 Maret itu selalu membuatku sedih sekaligus bahagia.
3 Maret itu selalu tentang AKU



Yeah, its My Birthday….
Aku tak pernah merayakan hari kelahiranku dan pertambahan usiaku secara khusus dan terencana. Tak pernah ada pesta, tak ada kumpul-kumpul, tak ada tumpukan hadiah, tak ada makan-makan atau apalah yang lazimnya dilakukan mereka yang berulang tahun.
3 maret selalu membuatku sibuk hingga terkadang aku melupakannya. Tapi mereka selalu mengingatnya, yah mereka yang teramat kusayang.
Pagi tadi Mamaku  membangunkanku dengan kecupan lembut dan ucapan selamat ulang tahunnya yang sedikit mengagetkanku karena aku lupa (lagi!) pada hari ulang tahunku. Tapi berhubung masih ngantuk (aku baru bisa tidur jam 3 pagi, you know, Insomnia) dan ini hari minggu, jadi kupikir aku bisa menambah waktu tidurku, tidak ada yang salah dengan itu, kupikir. Tapi mamak tidak berpikir demikian, ia berusaha keras membangunkanku.
Ia menyeretku, menarik kakiku, mengacak-acak rambutku yang selalu acak-acakan dan terakhir, ia menimpaku dengan tubuh tambunnya! “ngek!” dan “kretek!” adalah dua bunyi yang dihasilkan dari gencetan itu. Sejenak aku berpikir kalau aku bakal mati tepat di hari ulang tahunku. Yak, mati tepat di usia 21, sungguh tragis.
Aku membayangkan besok namaku akan terpampang di Koran, halaman depan dengan tag line,
“tragis! Seorang gadis cantik, imut, lucu dan bahenol tewas tepat di hari ulang tahunnya setelah tertimpa tubuh sang ibu yang sangat berat!”. Oh No!!! itu benar-benar gak keren! Yakin!
Tapi tidak, aku masih bisa bernapas! Hore! Setelah perjuangan berat dan menggelepar-gelepar seperti ikan di daratan, aku bebas. Tentunya setelah aku mengucapkan kata kuncinya dengan keras, berteriak tepatnya. “oke, aku bangun!”
Masih jam 6 pagi, dan ini hari Minggu oke! Aku baru tidur 3 jam dan yang pertama harus aku lakukan adalah memasak nasi goreng untuk sarapan orang satu rumah. Yak, itu menyebalkan. So, aku berpikir, “kali ini mereka akan mati di tanganku, khekhekhekhekhe”(dengan gaya nenek sihir sambil memegang ulekan sambal dan seplastik cabe rawit, ¼ kg cabe rawit merah tepatnya, haha, genius!)
Hasilnya, pagi itu semua orang di rumah berteriak kepedasan dan air satu gallon terlihat berkurang drastis. Yap, rasakan haha. Sekedar pemberitahuan, cabe2 itu tidak berpengaruh untukku, itu bukan apa-apa karena aku cinta cabe, hehe.
Di hpku sudah penuh sms dr sahabat n temen2 yang ngucapin HBD dengan tagihan PU alias Pajak Ultahnya. Humhumhum. Thanks buat kalian semua! Tapi maaf, hari ini ane lagi ada kerjaan, so, yuk dada byebye. Haha, makan2 ntar menyusul aja ye, coklat 100 perak buat masing2 kalian, haha. No, I’m serius mbak bro!
Tapi 3 maret itu benar2 hari yang bersejarah buat aku. ada banyak peristiwa yang terjadi di tanggal itu.
3 maret 1992 aku dilahirkan oleh seorang ibu yang luar biasa dengan doa bapakku yang luar biasa pula.
3 maret 1993 aku tak tahu apakah dirayakan atau tidak, tapi aku punya foto keluarga yang paling aku suka sampai saat ini, fotoku di usiaku yang pertama di atas pangkuan ibuku dengan bapak dan kakakku berdiri di belakang. Sebuah keluarga yang harmonis.
3 maret 1994, ulang tahun ke duaku dengan kelahiran adikku sebagai kado ulang tahun. Dia lucu dan aneh, tapi dia adik kesayanganku, selalu, sampai kapanpun. Hehe
3 maret berikutnya aku lupa tapi pasti penuh canda.
3 maret yang kulalui setelah masuk sekolah, baik SD, SMP, maupun SMA selalu penuh dengan telor, tepung dan air, sampah juga. Aku adalah adonan kue ulang tahunku. Yap, begitulah. Bahkan tahun lalu aku menghabishan 3 Maret dalam balutan cat. Ugh, itu yang paling menyebalkan, cat dimana-mana dan lengket dimana-mana.
Dan tahun ini? Entahlah, sepertinya tak akan terlalu ramai tapi tetap menyenangkan. Tapi aku tetap menyukai hari ini dan selalu dengan semua yang mengingatku.

Semoga setelah hari ini berlalu, aku akan semakin dewasa, pintar, cantik, langsing (haha, serius!), berprestasi dan sukses. Semoga aku semakin berbakti pada orang tua, beriman pada Allah dan saying serta disayang oleh banyak orang. Dan semoga aku cepat lulus dan bekerja di tempat yang kuinginkan hingga aku bisa menjadi Menteri Pariwisata dan penulis yang hebat. AMIN!
 
SO, WELCOME 21 ME!

Solusi


Harapanku terlampau tinggi
Untukmu yang ingin kumiliki
Asaku terlampau tinggi
Mengharapmu ada di sisi
Namun kau pergi…
Pergi… tak kembali

Kini kuterpuruk dalam sepi
Terdampar dalam kesunyian hati
Terkulai sendiri
Menanti tambatan hati

Akankah sakit ini segera pergi?
Ataukah menetap dan enggan berlari?
Beri aku solusi yang bisa kumengerti
Tanpa harus kumemikul benci
Yang membuatku serasa menyeberangi arasi…

 
Yogyakarta, 3 Maret 2009
By : MGK